Sering dalam keseharian kita mendengar dengan yang namanya asuransi jiwa. Tapi kalau orang kebanyakan ditanya ‘Apa sih Asuransi Jiwa itu?’ pasti jawabannya macem-macem, ada yang bilang Asuransi jiwa itu warisan, trus ada yang bilang uang pengganti kalau orang itu meninggal, lalu asuransi jiwa juga artinya perlindungan jiwa, buat jaga-jaga dan lain-lain. Jawaban-jawaban tersebut tidak salah…tapi seolah-olah asuransi jiwa itu adalah sebagai pengganti kerugian atas meninggalnya seseorang, maka tidak salah pula ada anggapan bahwa kalau membeli Asuransi Jiwa sama aja didoakan cepet meninggal.
Lalu apakah sebenarnya Asuransi Jiwa itu? Makhluk apa itu? Untuk menjawab itu sebaiknya kita melihat kepada siapa sebenernya Asuransi Jiwa Itu bekerja. Pada dasarnya asuransi jiwa diambil (dibeli) ketika belum/tidak dibutuhkan (saat masih sehat), bukan di ambil ketika membutuhkan (saat sakit atau sakit kritis). Mari kita lihat sebuah perumpamaan dalam sebuah keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan anak-anak. Biasanya si Ayah lah yang bekerja membanting tulang untuk mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan keluarganya mulai dari makan, minum,pakaian, membayar tagihan-tagihan, biaya pendidikan dan lain-lain. Artinya si Ayah memiliki nilai ekonomi didalam keluarga tersebut. Coba bayangkan apa yang terjadi pada keluarga tersebut apabila si Ayah terkena resiko sakit kritis (jantung, stroke, kelumpuhan dll) atau cacat tetap total dan atau bahkan meninggal??? Tentunya keluarga tersebut akan kesulitan meneruskan kehidupannya karena ada ‘sejumlah biaya’ yang harus dibayar agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Disinilah peran Asuransi Jiwa muncul. Seandainya di masa sehatnya si Ayah memiliki Asuransi Jiwa dengan perlindungan lengkap, maka apabila di masa si Ayah terkena resiko maka Polis Asuransi jiwa akan bekerja menggantikan ‘fungsi’ si Ayah untuk menafkahi keluarga dengan cara mengeluarkan sejumlah Uang (di dalam dunia Asuransi disebut ‘Uang Pertanggungan’) untuk diberikan kepada keluarga. dengan uang tersebutlah keluarga si Ayah masih tetap bisa meneruskan kehidupan seperti pada saat si Ayah sehat. Disini jelas bahwa asuransi Jiwa melindungi keluarga melalui kasih sayang memberikan ketenangan pikiran dengan memberikan jaminan keamanan finansial dan masa depan bagi orang yang dicintai.
Jadi didalam asuransi RESIKO yang dilimpahkan bukanlah resiko hilangnya jiwa atau harta benda seseorang, melainkan resiko KERUGIAN SESEORANG sebagai akibat hilangnya jiwa atau ketidakmampuan seseorang.
Nah semoga penjelasan sederhana ini akan dapat membuka wawasan kita bahwa ternyata asuransi jiwa sebenarnya merupakan kebutuhan. ibaratnya sebuah ban serep didalam mobil kita yang baru kita gunakan apabila ada keadaan darurat dijalan dikarenakan pecah ban, atau seperti sebuah payung yang selalu kita sediakan di rumah untuk digunakan melindungi kita dari hujan, polis asuransi jiiwa juga baru akan menunjukkan fungsinya bila keadaan yang tidak diinginkan (resiko) datang. Bila kita sudah sadar bahwa ban serep merupakan benda wajib yang harus ada di dalam mobil kita, dan sedia payung sebelum hujan… mengapa tidak dengan polis asuransi jiwa kita sediakan juga didalam keluarga kita? Bagaimana?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar